Mengubah Pola Ngaji Nguping
Lembaga Dakwah Al-Husnayain (LDH) punya gawe besar. Secara periodik lembaga ini terus melakukan kaderisasi da’i/da’iyah. Pasalnya, permintaan tenaga da’i lebih besar dari persediaan. “Misi kami adalah mengembangkan wawasan keislaman serta pembentukan kepribadian muslim yang istiqomah,” ucap Ketua LDH, Sahidi A. Rasyid, S.Ag.
Ayah enam anak itu mengaku LDH yang sudah berusia lebih dari 10 tahun hingga kini terus mendapat penyegaran dari pembinanya, yakni KH. Bali Pranowo. Penyegaran itu berupa pemantapan khittah, ruhul jihad, dan konsistensi pada visi dan misi dakwah. “Karenanya untuk bisa bergabung dengan LDH, para calon da’i memang mesti mengikuti seleksi ketat. Ini agar tidak muncul da’i yang cuma pandai bersilat lidah, tapi yang terpenting bisa menjadi qudwah (teladan) bagi umat. Selain itu, materi dakwah harus mengedepankan keilmuan yang berstruktur,” tegas Sahidi.
Keilmuan berstruktur, jelasnya, didasarkan pada kapasitas atau kemampuan keilmuan dan wawasan audiens. Di sini LDH menyiapkan paket-paket berisi materi dakwah yang kemudian disampaikan secara bertahap. Jadi jamaah bukan sekedar “ngaji nguping”. Disini seorang da’i mesti pandai memetakan kondisi sosial dan budaya masyarakat yang didakwahi. Jika pemetaan sudah dilakukan, baru kemudian meformulasikan dan mengemas materi yang akan disajikan.
Pria kelahiran Purwokerto, 38 tahun silam itu mengatakan, para da’i yang sudah terjun di lapangan pun terus mendapatkan taqwim (pembinaan) yang kontinyu. Ya, ibarat sumur, jika tidak didalami, jelas airnya pun akan menyusut. “Jadi, da’i itu mesti kaya bacaan dan pembinaan,” ujar Sahidi.
Sampai saat ini, LDH baru memiliki 32 da’i dengan jam terbang lumayan. Jumlah ini dirasakan masih jauh dari kebutuhan. Karena itu, LDH kini terus membuka pintu untuk mereka yang mau bergabung. Ketika ditanya, apa sih modal utama seorang da’i? Dengan tegas Sahidi mengatakan, modalnya adalah akhlaq. Toh tugas utama rasulullah SAW sendiri membangun akhlaq. Insya Allah jika akhlaqnya mulia, seorang da’i akan mampu menuntun umatnya kepada jalan kebajikan.
Pola kaderisasi LDH memang tidak terlalu rumit. Jika sudah lolos latihan dan pembinaan, mereka diterjunkan untuk memberikan tausiah (ceramah) dan dialog intraktif di depan jamaah. Masa pengujian di lapangan ini beragam. Ada yang cuma satu bulan, terus dilepas untuk mandiri, ada pula yang bertahun-tahun belum juga bisa mandiri. Itu sangat tergantung kepada manusianya. “Jika mereka dinilai sudah mampu berinteraksi dengan jamaah, baru kami lepas agar mereka mandiri,” papar Sahidi.
Materi pengkaderan ditekankan pada tiga bidang. Pertama, aqidah. Dengan penumbuhan dan pengokohan aqidah ini, diharapkan para da’i mampu mengedepankan kepentingan Allah dan RasulNya di atas kepentingan lainnya. Jika materi aqidah sudah mereka kuasai secara lahir-batin, secara ilmu maupun praktek, baru melangkah pada materi kedua, yakni ibadah dalam arti luas. Lewat bedah ibadah ini, diharapkan mereka mau dan mampu menjalankan syariat Islam secara kaffah. Ketiga, pembinaan akhlaq.
“Nah, dengan memadukan tiga bidang tersebut, para da’i diharapkan mampu tampil sebagai mujahid-mujahid yang tangguh dalam melakukan pencerahan umat. Seorang mujahid bukan cuma bisa memberi kuliah di depan umat, tapi juga harus siap mengorbankan kepentingan dirinya untuk menegakkan dienullah,” tutur Sahidi.
Ketika disinggung soal sinergi dakwah, Sahidi menyatakan siap bersinergi dengan siapapun yang memiliki visi dan misi dakwah yang sama. Islam sangat menekankan sikap hidup yang saling bahu-membahu demi kemajuan umat. “Pintu LDH selalu terbuka dan siap untuk bekerjasama,” tambahnya.
***Asep Ridho/SBR
VISI & MISI
Visi
Memajukan dakwah melalui lembaga dan sumberdaya manusia yang profesional menuju masyarakat madani.
Misi
- Mencetak kader-kader dakwah yang intiqomah, professional, dan ikhlas memandu umat.
- Menjadi mitra pengurus masjid dan lembaga dakwah di perusahaan, instansi, sekolah dan kampus dalam upaya peningkatan kompetensi & profesionalisme dakwah di masyarakat secara berkesinambungan.
- Menyelenggarakan layanan program, konsultasi dan pengembangan dakwah.
CORE PROGRAM
Program Rutin
- Khutbah Jum’at
- Tabligh/Ceramah
- Bulletin Jum’at
- Konsultasi (dakwah, keluarga & pendidikan)
Program Berkala
- Pelatihan:
- Manajemen Dakwah
- Manajemen Masjid
- Dauroh Khutoba
- Dauroh Murabbi
- Dauroh Janaiz
- Work Shop Da’i/Daiyah
- Seminar Dakwah
- Tasqif Dakwah (Tamhidi & Muayyid)
- Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an
- Bedah Buku
Program Penunjang
- Majelis Khutoba
- Kajian Tafsir
- Kajian Fiqih Kontemporer
- Kajian Bahasa Arab
- Evaluasi Dakwah
- Mabit
- Outing & Muhibah
- Tabligh Akbar




